Tuntutlah ilmu sampai ke negeri Jepang (Karya Lomba Menulis 2020)

lomba_2020Cinta & Gaul sama Orang Jepang, Lomba Menulis, Semangat Pejuang Bahasa Jepang, ★kelas kita (クラスでの活動)

LDR dengan Indonesia untuk pertama kalinya

Musim gugur telah tiba saat aku pertama kali ke Jepang. Dengan suhu Indonesia yang cukup lumayan berbeda, setiba di Jepang saya masuk angin. Padahal sudah pakai jaket tebal. Dan sebagai orang Indonesia yang memegang erat budaya Indonesia, saya meminta tolong roommate untuk membantu menghilangkan angin yang tak kasat mata ini dengan minyak kayu putih dan uang koin.

Datang ke Jepang sebagai gakusei untuk belajar bahasa Jepang di sekolah bahasa Jepang. Di sekolah, saya satu-satunya orang Indonesia dan untuk pertama kalinya juga orang Indonesia yang bersekolah disana. Perasaan takut dan sedih, takut tidak bisa beradaptasi dan sedih karena harus sendiri. Di kelas saya lebih banyak diam. Dari berbagai macam negara yang belajar di sekolah ini. Ada yang dari Vietnam, Filipina, Nepal dan Taiwan. Mereka bisa berbicara dengan bahasa mereka dan bertanya kepada temannya saat tidak mengerti materi yang sedang diajarkan. Sedikit iri, tapi itu yang membuat saya lebih mandiri untuk belajar bahasa Jepang.

Disekolahku, kami diwajibkan sebelum memulai pelajaran harus mengambil nafuda dan mengumpulkan PR di ruang guru. Tidak hanya mengambil nafuda, tetapi kami juga harus menjawab pertanyaan yang di ajukan para sensei agar bahasa Jepang kami menjadi lebih mahir. Pertanyaan sensei yang masih aku ingat hingga kini yaitu, sensei mengatakan kepadaku bahwa udara saat ini sejuk, aku tidak setuju dengan peryataannya. Dengan suhu 15° yang aku rasa adalah dingin. Dingin sekali.

Arubaito

Sebagai gakusei yang membiayai sekolah dan kehidupan di Jepang tanpa bantuan orang tua saya harus arubaito atau yang biasa disebut kerja part time. Beberapa hari setelah nyuugaku shiki (upacara masuk sekolah) , akhirnya diterima arubaito di izakaya . Dari sana saya akhirnya mempunyai teman orang Jepang untuk pertama kalinya. Kura chan namanya. Aku ingat, saat musim dingin tiba, aku jatuh sakit. Dia datang ke tempat tinggalku untuk menjengukku dan membawakan boneka, bubur instan dan kaos kaki untukku. Aku sangat terharu. Walau bahasa jepangku masih sangat-sangat belum mahir kami bisa berteman. Hingga saat ini kami masih berteman baik walau saat ini aku sudah tidak tinggal satu kota dengannya.

Musim dingin pertamaku

Sudah terbiasa dengan suhu panas di Indonesia dan harus merasakan suhu dingin -1° rasanya luar biasa. Pulang arubaito dengan sepeda pada jam 12 malam dengan cuaca yang sangat dingin. Memakai celana dan jaket masing-masing dua lapis, serta sarung tangan.
Perjalan pulang dengan sepeda tengah malam, aku melihat segerombolan anak muda Jepang. Laki-laki dan perempuan. Yang menarik perhatianku adalah ditengah cuaca sedingin ini, perempuan itu memakai rok mini dan baju yang cukup membuatku berbicara dalam hati “sugoii”.

Esok harinya aku bertanya kepada sensei mengenai hal ini. Dan jawabannya adalah itu hal yang biasa. Sensei juga berkata kalau saat muda dulu dia juga tetap memakai rok mini walau musim dingin. Hal ini juga aku tanyakan kepada staff di izakaya. Dan jawabannya membuatku tertawa. Dia mengatakan kalau cewek Jepang itu “aho”, cuaca dingin masih ingin terlihat “oshare”.

Ditilang pak polisi

Ternyata naik sepeda di Jepang itu ada aturannya. Hal itu aku ketahui setelah diberhentikan oleh polisi.
Sudah tiga kali diberhentikan polisi karena menggunakan earphone, bersepeda sambil menggunakan payung dan lupa menyalakan lampu sepeda. Semua aturan itu aku ketahui setelah melakukan kesalahan tersebut.

Bali itu Indonesia loh!

Berkat arubaito di izakaya saya mempunyai banyak teman orang Jepang. Bukan hanya orang Jepang yang arubaito bersamaku tetapi juga para tamu.

Dulunya dia arubaito di sini. Karena sudah bekerja akhirnya berhenti. Ini pertemuan kali kedua kami. Dia membawa teman kerjanya. Saat tidak sibuk, sembari mengantarkan pesanan tamu saya dan dia mengobrol. Akhrinya dia memperkenalkan aku kepada temannya. “Kenalkan dia dari Indonesia”. Dia tersenyum dan menyebutkan namanya. Akhirnya kami larut dalam obrolan. Kemudian aku bertanya kepadanya “pernah ke Indonesia?”. Dia menggeleng dan dia tampak berfkir sejenak kemudian berkata kalau saat kuliah dulu pernah ke Bali. Aku tersenyum mendengar ucapannya. “Bali itu Indonesia loh” balasku. Dia terkejut tak percaya. Dia berkata orang-orang Indonesia itu ramah-ramah dan dia paling suka dengan pisang goreng. Senang bisa mendengar cerita tentang negaraku. Bukan hanya dia yang tak tahu kalau Bali itu termasuk wilayah Indonesia. Banyak orang Jepang yang menganggap Bali itu sebuah negara.

Obrolan kita akhrinya berakhir saat aku mulai sibuk bekerja. Mereka memanggilku saat hendak pulang. Dia memberikan aku uang kembalian untuk membeli jus. Hendak aku tolak, tapi dia memaksa. Kemudian temannya juga memberikan uang selebaran 50.000 rupiah dan dua lembar 2.000 rupiah. Uang yang dia pakai saat ke Bali dahulu. Aku dengan senang hati menerimanya. Menerima uang rupiah dari orang Jepang.

Penulis: Kazama Kenji