Berawal dari Anime, Aku Mencintai Jepang bahkan Sampai Mempelajari Bahasanya (Karya Lomba Menulis 2020)

lomba_2020Lomba Menulis, Semangat Pejuang Bahasa Jepang, ★kelas kita (クラスでの活動)

“aku baik-baik saja menikmati hidup yang aku punya. Hidupku sangat sempurna I’m single and very happy. Mengejar mimpi mimpi indah, bebas lakukan yang aku suka. Berteman dengan siapa saja. I’m single and very happy”

Happy by Oppie Andaresta

Aku mempunyai prinsip dalam hidupku yaitu “lakukanlah apa yang kamu sukai selagi kamu sanggup dan bermanfaat”. Mengapa demikian? Selagi kita masih muda, nikmatilah masa-masa itu karena waktu tidak dapat diputar kembali. Saking menikmati masa-masa muda, sampai lupa menyadari bahwa aku masih jomblo wkwkwk. Jomblo mah bebas bisa melakukan apa saja, entah itu goro-goro di kamar, menjadi hikikomori, pokoknya suka-suka aku deh.

Lantas apa hal yang kulakukan untuk menghabiskan masa-masa ini? Tentu saja belajar bahasa Jepang. Belajar bahasa Jepang lebih berfaedah, bukan? Meskipun aku suka dengan bahasa Jepang, itu bukan berarti aku menomorduakan bahasa ibu kita yaitu bahasa Indonesia. Ketika menulis tulisan ini, aku jadi teringat wejangan dari bu Lilik yang mengatakan bahwa sayang sekali kalau kita pintar bahasa asing tapi tidak mahir berbahasa ibu. Kalau misalnya jadi penerjemah, akan kurang sekali nilainya. Jadi dengan kata lain, kuasailah bahasa ibu kita sebelum menguasai belajar bahasa asing khususnya bahasa Jepang.

Tanpa berlama-lama basa-basi, aku ingin menceritakan awal mulanya aku mencintai Jepang hingga aku lulus JLPT N3. Ayo disimak baik-baik kuy.

1. Naruto Membawaku Menyukai Segala Sesuatu Tentang Jepang

Biasanya di sekolahku, pembicaraan seputar Naruto selalu dibahas pada jam istirahat. Pada awalnya aku merasa belum begitu menyukai Naruto tetapi karena teman-teman di sekolah sering membahasnya, aku jadi penasaran dan mulai menontonnya. Tidak hanya itu saja, saat jam kosong ataupun jam istirahat, mereka saling berbagi konten seperti soundtrack mp3 dan wallpaper. Aku berpikir “Kenapa ya pada heboh ngobrolin Naruto? Emang apa sih bagusnya Naruto?”. Oleh karena itu, aku mulai memutuskan untuk mengikuti seri ini.

Episode demi episode aku tonton, hingga pada akhirnya, aku mulai menyukai anime ini. Rasanya aku ingin memberikan ucapan selamat kepada teman-temanku di sekolah bahwa mereka telah sukses menularkan virus Naruto kepadaku wkwk. Sebenarnya Naruto tidak hanya menarik dari segi cerita tetapi juga banyak pesan-pesan moral yang disampaikan agar kita bisa menjadi pribadi yang lebih baik lagi. Berkat Naruto, aku mulai tertarik dengan semua yang berhubungan dengan Jepang.

2. Mulai Tertarik Belajar Bahasa Jepang Tetapi …

Lantas apa hubungan belajar bahasa Jepang dengan Naruto? Tentu ada dong. Saat itu, aku berpikir, “kayaknya keren deh kalau bisa bahasa Jepang”. Dulu aku suka sekali meniru karakter-karakter yang ada di Naruto ketika mereka mengeluarkan jurus, misalnya kagebunshin no jutsu; kuchiyose no jutsu, dll. Saking tergila-gila dengan Naruto, aku rela ke Gramedia untuk mencari buku-buku berbahasa Jepang. Kemudian aku menuju ke rak buku berbahasa Jepang. Mataku tertuju pada buku yang berjudul “Mudah & Lancar berbahasa Jepang”.

Setelah pulang dari Gramedia, apakah langsung belajar bahasa Jepang? Tentu, Halaman demi halaman aku buka. Setelah itu kutulis status di Facebook yang berbunyi “My first lesson hiragana”, Teman-teman yang pakai facebook sudah pasti tahulah kebiasaan orang-orang di facebook. Biasanya bentar-bentar update status bahkan sampai di toilet pun menyempatkan diri untuk menulis status. Tidak peduli status itu positif ataupun negatif, pokoknya selalu update status. Dengan mengupdate status tersebut, mungkin saja ada teman-teman dunia maya yang bisa memberikan aku api semangat untuk memulai belajar bahasa Jepang wkwk.

Aku mulai mempelajari buku tersebut tetapi sayangnya kemauan untuk menguasai bahasa Jepang bersifat sementara. Dengan kata lain ibaratnya seperti peribahasa “hangat hangat tahi ayam”. Saat itu yang kupikirkan adalah “hiragana & katakana itu sulit”. Kalau hiragana dan katakana aja sulit apalagi kanji. Pada akhirnya buku yang aku beli hanya sekedar pajangan yang berdebu di tumpukkan buku-buku bekas.

3. Walaupun Sama Sekali Belum Pernah Belajar Bahasa Jepang tetapi Masih Ada Faedah yang Kuperoleh dari Menonton Anime

Aku resmi menyandang gelar sarjana ekonomi pada tahun 2016 dengan menempuh masa studi selama empat setengah tahun. Padahal seharusnya tiga setengah tahun karena aku mengambil cuti akademik selama 1 semester. Jika berbicara tentang masa-masa kuliahku, dulu aku sama sekali belum ada niat untuk mempelajari bahasa Jepang mengingat saat ini aku harus fokus pada kuliahku. Memang sih belum ada motivasi untuk mendalami bahasa Jepang tetapi ketika aku sedang senggang, biasanya aku lebih cenderung memilih menonton seri anime yang punya rating tinggi seperti shigatsu wa kimi no uso, shingeki no kyojin, fairy tail, fate/zero, dll.

Memang apa sih faedahnya nonton anime? Cuma buang-buang waktu saja dan tidak produktif! Jika ditanya faedah, yang aku dapat adalah aku mulai dari mengerti beberapa budaya-budaya Jepang, pemahaman terhadap tata krama di Jepang, memahami gambaran masyarakat Jepang yang setidaknya sudah cukup merepresentasi kehidupan yang sebenarnya (salah satu contoh sederhana adalah kebiasaan memberikan salam di manapun dan kapanpun), dan yang terakhir adalah walaupun aku benar-benar buta dengan hiragana, katakana, dan kanji, secara tidak langsung aku mempelajari ungkapan-ungkapan sehari-hari, misalnya おはようございます (ohayoo gozaimasu), ありがとうございます(arigatoo gozaimasu), さようなら (sayonara) dll.

4. Belajar Bahasa Jepang Hanya Sekedar Iseng

Biasanya, mereka yang merupakan fresh graduate mulai sibuk mencari pekerjaan di berbagai perusahaan. Aku sudah mencoba melamar di beberapa perusahaan yang jumlahnya bisa dihitung pakai jari. Di antara beberapa perusahaan tempatku melamar kerja, aku sempat lolos di psikotes tetapi gagal di interview. Ada juga perusahaan yang mengharuskan calon karyawan untuk menjaminkan ijazahnya untuk sementara waktu tetapi aku menolaknya. Pada akhirnya aku menyerah untuk mencari pekerjaan. Kalau memang bukan rezeki dan jodohku, ya sudah apa boleh buat, hanya saja Tuhan ada rencana untukku.

Kebetulan juga keluargaku memiliki sebuah ruko yang belum dimanfaatkan. Ruko tersebut sangat strategis karena dekat dengan pasar. Jadi daripada ruko tersebut dibiarkan kosong, lebih baik mendirikan sebuah toko kelontongan padahal kegiatan mengurus toko bukanlah passionku. Aku sempat menolak untuk mengurus toko tetapi karena kata mujarab “Tolong” akhirnya cukup membuat hatiku luluh.
Setelah membuka toko kelontongan, aku mulai merasakan kejenuhan. Memang pada masa-masa awal merasa tidak nyaman tetapi lama-lama akan terbiasa dengan keadaan yang baru. Aktivitas sehari-hari begitu monoton. Saat itu kondisinya adalah aku sudah menyelesaikan pendidikan formal, tidak begitu sibuk seperti karyawan pada umumnya, kerjaannya sederhana yaitu hanya melayani pelanggan, mengontrol barang masuk-keluar, dan membantu membawa barang-barang seperti galon air mineral, gas elpiji, dll.

Untuk mengisi waktu senggang, aku hanya menonton anime saja. Kalau dipikir-pikir, rasanya tidak afdal apabila menonton anime tanpa memahami bahasa Jepang. Jadi, aku menantang diriku sendiri untuk mencoba belajar bahasa Jepang. Lagipula belajar bahasa Jepang merupakan kegiatan yang produktif, bukan?. Tentunya menonton film, anime, maupun acara TV Jepang tanpa subtitle adalah sebuah impian dari beberapa orang yang meminatinya.

Tepat pada Desember 2016, Aku iseng mencoba belajar bahasa Jepang. Pertama-tama, aku mulai mencari website-website yang berisi materi tata bahasa Jepang. Setelah aku menemukan sebuah website (bukan wkwkjapan), aku mulai mengikuti pelajarannya sambil menyalin di buku tulis sambil memahaminya. Setiap kali mengikuti materinya, kok rasanya ingin belajar dan belajar lebih banyak lagi ya? sepertinya aku mulai berjodoh dengan bahasa Jepang deh, padahal aku belum ada tujuan yang jelas, untuk apa belajar bahasa Jepang.

5. Berjodoh dengan Wkwkjapan

Setelah mengikuti materi-materi yang ada di website tersebut secara konsisten, aku mulai merasa tidak ada kecocokkan antara cara penyampaian materi dengan metode belajarku karena pada website tersebut sangat sedikit sekali soal-soal latihan, padahal aku sangat membutuhkan latihan soal sebagai bahan evaluasi diri. Lalu aku juga menemukan beberapa contoh kalimat yang salah. Sayangnya, si pemilik dari website tersebut belum memperbaiki kesalahan tersebut. Oleh karena itu, aku memutuskan untuk tidak mengikuti materinya.

Selanjutnya aku mencari kembali beberapa website yang bisa dijadikan pedoman untuk belajar bahasa Jepang dan akhirnya saya menemukan website wkwkjapan. Ada satu hal yang menarik dari perhatianku. Aku melihat ada bagian menu yang bertuliskan “Kursus Online Gratis”, Dalam hatiku berkata “Wah, aku tidak menyangka, ada wkwkjapan ingin memberikan kursus secara gratis.”. Saking penasarannya, aku mengklik tombol daftar yang mengarahkanku menuju grup (kita sebut saja dengan istilah “kelas”) facebook yang bernama “Belajar Bahasa Jepang Bersama Guru Orang Jepang”.

Aku bergabung di kelas itu pada Maret 2017. Tanpa perkenalan terlebih dahulu, aku iseng mengikuti latihan soalnya. Pada saat itu mereka belajar tentang kakujoshi (Partikel). Bukannya baca materi terlebih dahulu, ini malah asal-asalan menjawab. DASAR! wkwkwk. Tanaka-sensei pun mengoreksi jawabanku dan beliau membalas komentarku seperti ini, “Periksa semua. Baca materinya terlebih dahulu.” kemudian dengan pedenya, aku respon kembali dengan bahasa Jepang yang amburadul dan geje. Teman-teman sudah pasti bisa menebaknya apakah direspon atau tidak? Sayang sekali, ternyata dicuekin.

Permasalahannya adalah kalau partikel saja tidak bisa menguasai nanti akan sulit untuk mengikuti materi berikutnya. Terlebih lagi, aku harus bisa beradaptasi dengan silabus yang digunakan dalam kelas. Setelah dipikir-pikir, sebaiknya aku harus mengikuti materinya dari awal. Di saat mereka belajar tentang partikel, aku belajar tentang pola dasar KB1 wa KB2 desu. Beruntung sekali Tanaka-sensei masih bersedia untuk mengoreksi latihanku dengan sabar, meskipun aku tertinggal jauh dari teman-teman yang lain.

Ngomong-ngomong, sebelum materi N4 dimulai, aku berusaha mengejar ketertinggalan selama tiga bulan. Aku cukup puas karena pada akhirnya, aku bisa mengikuti kegiatan kelas bersama teman-teman yang lain seperti mbak Farida, mbak Farhanah, Ainur, Nophie kyaara, Citra dll. Setelah sekian lama mengikuti kelas bersama-sama, akhirnya aku memulai menjalin pertemanan dengan mereka meskipun hanya sekedar teman dunia maya.

Jika berbicara mengenai kegiatanku di kelas, biasanya, materi akan diposting sesuai jadwal tepat pukul 19.30 WIB. Sebelum mengerjakan latihan soal, aku hanya butuh waktu 1 jam untuk memahami dan menyalin apa yang disampaikan di kelas. Jika menemukan kosakata yang baru khususnya pada contoh kalimat yang sedang dipelajari, aku membuat flashcard dengan menggunakan ankidroid untuk menambah perbendaharaan kosakata. Tak lupa juga aku belajar kanji dengan cara menyalin satu kanji sebanyak 5 baris yang urutan penulisannya, diurai ke samping.

Tibalah saatnya pengumuman juara wkwkjapan 2017. Satu per satu juara diumumkan mulai dari juara bebek goreng, juara diam-diam menghanyutkan (ada-ada saja Tanaka-sensei wkwkwk) sampai juara satu, dua, dan tiga. Sebenarnya aku tidak yakin apakah aku akan mendapat gelar juara atau tidak. Tak disangka-sangka aku mendapat juara ke-3 wkwkjapan. Di dalam hatiku “Heran, kok aku jadi juara ke-3, padahal aku telat bergabung di kelas.”. Apakah sudah puas memperoleh gelar juara wkwkjapan? belum dong, targetnya harus sampai level N1 dong.

6. Berhasil Lulus JLPT N3 pada Percobaan Ke-tiga

Dulu aku pernah bermaksud untuk mengambil JLPT Level N4 tetapi aku urungkan setelah bu Lilik menyarankanku untuk mengambil level N3. Aku bersyukur dan berterima kasih sama beliau karena aku tidak perlu merogoh kocek untuk pulang pergi Palembang-Jakarta hanya demi N4. Maklum, aku belum begitu paham seluk beluk JLPT. Sembari mengumpulkan uang untuk ke Jakarta, aku pun mengulang materi-materi yang pernah dipelajari sebelumnya sekaligus mencicil sedikit demi sedikit materi N3. Lagi pula, untuk berkarir di bidang yang menggunakan bahasa Jepang, setidaknya minimal harus mempunyai sertifikat N3, bukan?

Untuk pertama kalinya, tepat pada tahun 2018, aku mulai mencoba mengikuti JLPT N3. Namun yang disayangkan adalah pada saat itu, Palembang belum pernah mengadakan JLPT sama sekali. Oleh karena itu, aku memutuskan untuk mengambil ujian di Jakarta. Beruntunglah, lokasi ujiannya tepatnya di SMAN 70 Jakarta dekat dengan blok M, jadi bisa sempat ngewibu menikmati acara Jejepangan yang bernama Ennichisai (mohon maaf tidak bisa cerita banyak tentang Ennichisai. Aku sih tidak mempermasalahkan uang yang dikeluarkan untuk mengikuti JLPT, tujuanku sih hanya sekedar untuk mengukur kemampuan bahasa Jepangku.

Di sinilah mulai merasakan jatuh bangun. Aku telah mencoba 3 kali mengikuti JLPT N3. Pada percobaan pertama aku tidak lulus JLPT karena nilaiku yang bikin nyesek gara-gara kurang tiga angka (92/180) dan nilai dokkai yang hancur. Padahal untuk lulus N3, skor kumulatif harus memperoleh skor minimal 95/180. Mungkin ada yang berpikir, “sakit banget, udah jauh-jauh berangkat ke Jakarta tapi tidak lulus JLPT.”. Bagiku kegagalan adalah hal yang wajar, karena kegagalan adalah awal dari keberhasilan, bukan? Aku masih belum menyerah, aku coba lagi mengikuti ujian yang diadakan di Palembang.

Percobaan kedua pun sama, aku masih gagal di kesalahan yang sama seperti kesalahan pertama dengan skor yang sama juga (92/180). Aku benar-benar heran, kenapa masih belum lulus? Aku pun bertanya sekaligus meminta wejangan kepada Rifki yang nilai JLPTnya bisa dikatakan almost perfect. Setelah mendapat wejangan darinya, aku mulai mencari penyebab dari kegagalanku. Dan ternyata selama ini metode belajar yang kupakai kurang efektif.

Biasanya sih, aku belajar berjam-jam. Bukannya belajar banyak-banyak lebih bagus, malah cenderung gampang lupa pelajaran yang lama. Terlebih lagi, aku jarang berlatih membaca maupun mendengarkan konten yang berbahasa Jepang. Jadi dalam hatiku berkata “Ooohhh ternyata ini toh biang keroknya.”. Jadi bisa disimpulkan bahwa, “Belajar itu tidak mementingkan kuantitas, tetapi kualitas yang paling penting. Walaupun sudah banyak-banyak belajar tapi malah banyak yang lupa, sama juga bohong. Intinya perlahan tapi pasti, dan tidak perlu terburu-buru”.

Pada kesempatan ketiga, tepatnya Juli 2019, aku mengikuti JLPT yang sudah kedua kalinya di Jakarta. Aku berharap “Semoga ini JLPT N3 yang terakhir.”. Agar keinginan tersebut terwujud, aku menulis kalimat afirmasi yang berbunyi seperti ini “Akhirnya aku lulus JLPT N3 bulan Juli 2019 dengan nilai yang memuaskan” sebanyak 55 kali dalam lima hari di jam yang sama (tidak boleh terputus) serta memberi hadiah kepada diriku sendiri. Teknik itu ibaratnya seperti kita memprogram otak kita agar masuk sampai ke alam bawah sadar. Buat teman-teman yang penasaran, silahkan cari teknik 55×5 di internet.

Tibalah pengumuman hasil JLPT N3. Eng Ing Eng, inilah hasilnya.

Wah aku senangnya bukan main. Setelah belajar selama tiga setengah tahun, akhirnya lulus juga N3. Yang mengejutkan adalah, nilai yang biasanya menghancurkan skor total, malah dokkailah yang paling tinggi dibanding language knowledge dan listening. Usaha benar-benar tidak menghianati hasil. Meskipun otodidak, aku pun bisa lulus JLPT N3.

Fiuhhhhh capek. Ternyata aku banyak bercerita panjang lebar. Intinya adalah jika ada kemauan di situ ada jalan. Jika tidak mempunyai guru yang membimbing kita belajar bahasa Jepang, masih ada jalan lain, salah satunya belajar secara otodidak. Untuk kedepannya, aku bertekad lulus JLPT hingga level N1 serta fasih berbicara bahasa Jepang. Siapa tahu ilmu yang kuperoleh, berguna bagi orang banyak entah itu penerjemah ataupun menjadi penghubung antara orang Indonesia dengan orang Jepang, atau bisa juga untuk ngegombalin cewek-cewek Jepang (tidak apa-apa toh angan-angannya terlalu tinggi, kan Kata adalah doa wkwk).

Penulis: Andriansyah Chowijaya