Orang Jepang Suka Melakukan Aktivitasnya dengan Cepat (Karya Lomba Menulis 2020)

lomba_2020Budaya & Kehidupan, Lomba Menulis, ★kelas kita (クラスでの活動)

Orang Jepang Suka Berjalan Kaki dengan Cepat

Jepang dikenal sebagai bangsa yang penduduknya sehat dan berumur panjang. Salah satu rahasianya adalah mereka rajin berjalan kaki setiap hari. Mereka rutin berolah raga jalan kaki di pagi hari dan di malam hari. Dan sering terlihat mereka ditemani oleh anjing peliharaannya. Dan kalaupun bukan untuk berolah raga, orang Jepang selalu suka berjalan kaki atau naik sepeda kemanapun mereka pergi. Asalkan tempatnya terjangkau. Anak anak sekolah lebih suka berjalan kaki atau naik sepeda untuk berangkat ke sekolah setiap hari. Mereka selalu terlihat berjalan kaki dengan cepat dan tidak ada yang berjalan dengan santai.

Ada peribahasa yang terkenal di Jepang “Toki wa kane ni nari" yang artinya “Waktu adalah uang". Dan bisa disimpulkan bahwa menghemat waktu berarti menghemat uang.

Ini pengalaman pertama saya berjalan kaki beriringan dengan orang Jepang. Dahulu ketika menjadi jissushei di sebuah perusahaan pengalengan ikan tuna, dijadwalkan di hari kedua hidup di Jepang adalah pembuatan kartu atm dari bank Jepang. Tepat sesuai jadwal saya dan teman teman satu grup dijemput di apato tempat kami tinggal. Beliau adalah Kobayashi san, manager dari perusahaan tempat kami bekerja. Beliau inilah yang akan mengantar kami ke bank yang sudah ditunjuk oleh perusahaan. Dan diberitahukan pada waktu itu bahwa tempatnya tidak terlalu jauh dari apato. Jadi cukup dengan berjalan kaki saja, begitu katanya pada waktu itu. Kami pun menjawab “hai". Kobashi san memulai langkah kakinya, ia mulai berjalan di depan kami. Kami pun segera mengikuti langkah kakinya.

Benar saja, seperti sebelumnya sesuai dengan acara acara televisi yang suka saya tonton di Indonesia. Yang berhubungan dengan kehidupan orang Jepang. Yang terlihat waktu itu, Kobayashi san tampak berjalan seperti biasa, langkah kakinya pendek pendek, teratur dan konsisten melangkah ke depan. Tetapi entah kenapa, waktu itu kami agak sulit menyesuaikan dengannya. Hingga untuk pertama kalinya dia mengatakan kepada kami “hayai". Kamipun menjawab “hai". Dengan tetap berusaha berjalan menyesuaikan dengan kecepatan langkah kakinya. Tetapi seingat saya, waktu itu untuk kedua kalinya beliau bilang lagi kepada kami “hayai", kami pun menjawab “hai". Sambil terus berusaha menyelaraskan kecepatan langkah kaki dengannya. Saya dan teman teman saling berpandangan agak keheranan dengan pengalaman pertama kalinya itu. Dan sambil menahan tawa yang diiringi rasa malu.

Akhirnya sampai juga kami ditempat tujuan. Dengan usaha yang pantang menyerah, dan selalu semangat. Dan dengan menghadapkan tubuhnya ke kami, Kobashi bilang “hayai ne", kami pun hanya bisa menjawab dengan tertawa lepas.

Orang Jepang Suka Makan dengan Cepat

Di Jepang terkenal dengan budaya antri. Orang Jepang akan selalu rela untuk mengantri meskipun antriannya panjang. Sama dengan halnya tentang makanan. Mereka pasti rela antri untuk menikmati makanan kesukaannya, meskipun antriannya sangat panjang.

Saya dan teman teman pernah mengantri panjang hanya untuk menikmati makanan yang ingin kami makan waktu itu. Karena di jam waktu makan siang atau malam, biasanya tempat makan yang favorit selalu ramai. Baik di mall, restoran, kedai atau rumah makan .

Ketika situasi rumah makan ramai dan antriannya panjang, kami pun harus bergegas ketika menyantap makanannya. Karena harus bertoleranai dengan mereka yang masih mengantri di luar, kami menyantap makanannya dengan cepat dan segera merapikan tempatnya kembali.

Di kantin tempat kami bekerja, di jam makan siang. Pekerja pria biasanya makan dengan cepat. Berbeda dengan pekerja wanitanya, mereka lebih suka makan perlahan sambil berbincang dengan temannya. Tetapi ada juga pekerja pria yang suka makan dengan perlahan sambil menikmati menu makanan yang mereka makan.

Orang Jepang Suka Mengerjakan Pekerjaannya dengan Cepat

Di tempat saya bekerja waktu itu, ada beberapa pekerjanya yang sudah berusia sangat tua. Di atas usia pekerja yang sudah pensiun. Karena etika menanyakan umur dianggap tidak sopan di Jepang, bisa diperkirakan umurnya sekitar enam puluhan hingga tujuh puluh tahunan. Tetapi mereka masih selalu sehat dan bugar.
Saat bekerja,mereka selalu gesit dan cekatan. Tidak jauh berbeda dengan kami yang masih muda .Dan mereka selalu semangat menjalani hari harinya.

Terima kasih.

Penulis: Erli Dwi Astuti