Acara Now!

Perbedaan antara “Koto ga dekimasu” dan “Reru / Rareru” dalam bahasa Jepang

Bentuk Potensial, JLPT N3, JLPT N4, Perbedaan, Seri こと (koto)Potensial, Tata Bahasa, JLPT N4, Perbedaan, Seri こと (koto)

Pola kalimat “ことができます (koto ga dekimasu)” dan kata kerja bentuk potensial “れる / られる (reru / rareru)” sama-sama dapat digunakan untuk menunjukkan potensial dan diterjemahkan seperti “bisa” atau “dapat” dalam bahasa Indonesia. Nah, kalau gitu, apa bedanya “koto ga deki-masu” dan “reru / rareru” ?

QUIZ!

Pertanyaan nih..

A.
おいしいラーメンをべることができます。
Oishii raamen o taberu koto ga deki-masu.

VS

B.
おいしいラーメンがべられます。
Oishii raamen ga taberare-masu.

A
おいしいラーメンをべることができます。
Oishii raamen o taberu koto ga deki-masu.
Bisa makan ramen yang enak.

B
おいしいラーメンがべられます。
Oishii raamen ga taberare-masu.
Bisa makan ramen yang enak.

Dua-duanya bisa dan artinya juga sama. wkwk 😅😅😅 Tapi, baca penjelasan selanjutnya. 😉

Apa Bedanya “Koto ga dekimasu” dan “Reru / Rareru” ?

Sebenarnya, kita sudah pernah belajar “ことができます (koto ga dekimasu)” yang berarti “bisa melakukan KK” dalam materi N5 (→ LINK), dan juga kata kerja bentuk potensial “れる / られる (reru / rareru)” dalam materi N4 (→ LINK). Tapi, selama ini, kita tidak membahas perbedaan antara kedua pola kalimat, apalagi topik seperti ini tidak banyak ditemukan dalam materi bahasa Jepang. Namun, kedua pola kalimat ini bentuknya jelas beda, sehingga pastinya ada perbedaann penggunaan. Oke, kali ini kita akan membahas perbedaan antara “koto ga dekiru” dan “reru/rareru”. Kuy. 😉😉😉

“KK + することができる” VS “KK + れる/られる”

“KK(Bentuk Kamus) + koto ga dekiru” dan “KK + reru/rareru” artinya sama ^^;. Jadi, “Oishi-i raamen o taberu koto ga deki-masu” dan “Oishi-i raamen ga taberare-masu” juga sama-sama diterjemahkan seperti “bisa makan ramen yang enak”.

Namun, dalam percakapan sehari-hari, biasanya orang Jepang tidak akan memakai kalimat “Ano mise de oishi-i raamen o taberu koto ga deki-masu (bisa makan ramen yg enak di restoran itu)” walaupun kalimatnya sah dan baku. Dan, akan memakai “Ano mise de oishi-i raamen ga taberare masu” ketika ingin kasih tahu restoran ramein yang enak kepada teman2. Kepana?

Iya, alasannya sama seperti bahasa Indonesia. Lidah orang Jepang juga sama seperti kalian. Orang Jepang suka malas dan irit mengucapkan kata kata yang panjang dalam percakapan, apalagi dibanding dengan bentuk yang agak kaku dan formal!

Karena sudah ada bentuk “tabe-rareru” yang cukup pendek dan sederhana untuk menyatakan potensial, apain kita harus memilih “taberu koto ga dekimasu” yang bentuknya panjang-panjang dan agak terasa kaku formal lagi…. Ini mungkin bukan soal tata bahasa melainkan kebiasaan manusia.

Bentuk ことができる (koto ga dekiru)

“KK +ことができる” terdiri dari こと yang berarti “hal” dan ができる yang menyatakan “bisa melakukan sesuatu”. Jadi, secara harfiah, “KK + ことができる” dapat diterjemahkan seperti “bisa melakukan suatu hal yang KK” yang bernuansa agak kaku formal. こと ini digunakan biar kata kerja di depannya bisa berfungsi seperti kata benda untuk bisa diterapkan ke dalam pola kalimat KBができる (bisa melakukan KB) yang pernah kita pelajari dalam materi N4. Misal,

× [およぐ] ができます。(salah!)
× [Oyogu (kata kerja)] ga dekimasu.
*kata kerja tidak bisa menjadi unsur seperti subjek dan objek yang ditunjukkan partikel.

↓ およぐ dijadikan kata benda dgn cara menambah こと

✓ [およぐこと] ができます。(Benar!)
✓ [Oyogu koto (kata benda)] ga dekimasu.
Bisa berenang.

Humm, tapi, cuma untuk menyatakan potensial doang, apain kita harus menyusun kalimat yang tambah rumit ya, kan sudah cukup dengan “oyogeru” saja.

Pemula Lebih Memilih ことができます (koto ga dekimasu)

Namun, sefeeling saya sih, banyak pelajar bahasa Jepang lebih suka memilih “KK (bentuk kamus) + koto ga dekimasu” yang panjang dan rumit daripada bentuk potensial yang sederhana. Mungkin karena kalau memakai “koto ga dekimasu”, kalian tidak usah menerapkan konjugasi, tidak usah mengubah bentuk kata kerja, tapi langsung aja bentuk kamus dimasukkan ke dalam pola kalimat. Cara ini lebih gampang, aman, dan tidak bakalan salah. Tapi, sayangnya kami orang Jepang kurang memakai bahkan hampir tidak pakai “koto ga dekimasu” dalam percakapan sehari-hari kalau kata kerjanya untuk kehidupan sehari-hari.

Tapi tenang, fenomena penggunaan “koto ga dekimasu” ini bukan kesalahan pelajar melainkan pihak pengajar atau materi bahasa Jepang yang pertama-tama mengajar “koto ga dekimasu” sebelum mengajar “reru / rareru” tanpa informasi tambahan. Pikiran dari pihak pengajar juga sama seperti kalian, pilih yang lebih mudah dan aman biar murid tidak bingung atau bisa menyatakan potensial tanpa perubahan bentuk kata kerja, sekaligus guru juga tidak usah menjelaskan konjugasi, tapi sebagai gantinya, para murid tanpa sadar mulai memilih bentuk yang kurang dipakai dalam percakapan sehari-hari.

Pesan I

Jadi, setelah kalian menguasai bentuk potensial atau mulai hari ini, hindarilah sering memakai “koto ga dekimasu” dalam percakapan meski polanya baku dan orang Jepang paham 100%. Jangan malas belajar bentuk baru dan jangan takut salah memakai bentuk pontensial untuk percakapan dalam bahasa Jepang.

Penggunaan ことができる

Kalo gitu, kapan kita memakai “koto ga deikiru” ?

Sebelumnya, kata kerja bentuk “reru” dan “rareru” tidak hanya dipakai dalam kalimat potensial melainkan dipakai dalam bahasa hormat dan bentuk pasif juga, sehingga bentuk ini terkadang membingungkan para pelajar bahasa Jepang. Misal,

食べられる = 1. bisa makan / 2.(org yg dihormati) makan / 3. dimakan.

Nah, mungkin saja, orang Jepang juga bisa salah paham atau salah dengar maksud yang sebenarnya kalau memakai “reru” dan “rareru” walaupun kemungkinan tersebut sangat kecil. Akan tetapi, untuk menghindari kesalahan tersebut, kita bisa memakai “koto ga dekiru” karena pola ini hanya menyatakan potensial dan tidak ada makna lebih dari itu.

Misalnya, bentuk “koto ga dekiru” sering digunakan dalam penulisan yang berkaitan dengan hukum seperti undang-undang , peraturan, dsb biar maknanya jelas dan tidak salah ditafsirkan lagi.

atau,

Saat berbicara dengan orang asing yang belum fasih dalam bahasa Jepang, kami akan memakai “koto ga dekimasu” dengan bernada terang dan lambat biar orang asing paham maksudnya sebisa-mungkin.

Selain itu, “koto ga dekiru” digunakan dalam penulisan seperti novel, makalah, dll untuk menyatakan suatu hal secara objektif dan tertulis. Dengan kata lain, “reru” dan “rareru” digunakan dalam kalimat mood yang dipakai dalam percakapan sehari-hari dengan mengandung perasaan pembicara seperti bangga, mudah, dsb karena bisa..

Epilog Sekaligus Pesan II

Taaaaapi, apakah おいしいラーメンが食べられます sudah cukup pendek dan simple bagi kita yang punya lidah super males?????

Nah, sebenarnya bagian “食べられます” bisa dipendekkan lagi dalam percakapan sehari-hari. Tapi, penjelasan selanjutnya baca link di bawah ya.. dewaaa.


☆Apa Bedanya “Reru” dan “Rareru” dalam bahasa Jepang

Referensi: 文法コロケーションハンドブック