KAGUM, KETERTARIKAN, DAN MENUJU MIMPI

finalis_lomba_2018, lomba_2018Lomba Menulis, Semangat Pejuang Bahasa Jepang, Tips & Review, ★kelas kita (クラスでの活動)

A. Berawal dari Tatap

Saat itu aku kelas 2 SMA, sepintas tak ada yang berbeda. Tepatnya hari jum’at, para murid dan guru memakai pakaian imtaq ( singkatan dari iman dan taqwa ) ya karena memang di daerah tempat ku tinggal memiliki motto “ maju, religius, dan berbudaya “. Singkatnya acara imtaq pun usai, seluruh murid termasuk saya uring-uringan ingin segera bubar, dan yang tak terduga pun ada di depan mata, ya kalian bisa tebak siapa itu? waaahhh ada turis, tapi ada yang berbeda dengan tamu di sekolah ku ini, mata sipit, rambut pirang, putih, bahasa yang dipakai pun bukan Inggris, asing sekali mendengarnya syukurnya ada kata kunci yang kukenal dia mengucap “ arigatou gozaimasu” setelah lama berpikir aku pun sadar yaaap dia turis dari Jepang! Yosh, semangat kami pun kembali memuncak karena selain ada tamu istimewa dia pun sangat cantik. Sayang pas salah satu dari teman kami memanggil, si turis cueeekk banget sumpah.

B. Menegangkan

Dia memperkenalkan diri namun entah siapa namanya, cepat sekali kudengar jadi aku tidak menangkap namanya diantara kalimat yang panjang itu. Guru bahasa Jepangku sebagai penerjemah, beliau sempat menyampaikan nama turis itu namun aku lupa saking asing nya haha. Spontan turis ini berkata “ kenapa disini barisannya tidak rapi, suara ada dimana-mana (ribut), siapa yang akan mendengarkan siapa, maaf tolong hormati siapapun yang sedang berbicara di depan!” Kami terhenyak mendengar apa yang dikatakan setelah diterjemahkan. Ya ku akui barisannya tak rapi, kami asik berbicara sesekali memperhatikan. Dia berkata dengan tegas dan pandangan yang cukup nanar menurutku kami se aula pun diam, dia kembali berkata “ bagaimana bisa negara ini maju jika budaya menghargai sesamanya saja tak ada, di negaraku kami diam saat ada yang berbicara, kami akan memposisikan diri kami di tempat yang pas dan rapi supaya enak dipandang tidak seperti ini. “ Bagiku kalimat ini kembali menusuk bertubi-tubi. Dan menjadi awal ketertarikan ku dengan Jepang. “seperti apa sih Jepang?“

C. Berbekal Media Sosial

Aku tidak mengambil pusing apa yang disampaikan turis itu, fokus belajar dan lulus dengan nilai yang memuaskanlah yang utama. Setelah lulus, ingatan tentang pertemuan itu kembali, rasa ingin tau pun bermunculan, apa iya Jepang seperti itu? Jepang oh Jepang aku harus mulai dari mana? Dari internet ku cari semua hal yang kuinginkan dan fakta itupun terkuak. Bahwa Jepang merupakan Negara maju yang memiliki kecanggihan industry dan teknologi, tertib, disiplin, menghargai sesama, etos kerja tinggi, dan yang membuat saya terkejut adalah Jepang tercatat sebagai Negara dengan upah minimum tertinggi se Asia. Wow!! Jangan heran juga kalau Jepang masyarakatnya cuek karena kebanyakan dari mereka adalah tipe orang yang tertutup (pantas saja turis waktu itu juga cuek jadi ini alasannya) Membuat ku semakin penasaran saja. Tak luput juga aku membaca segala hal mengenai Negara Sakura tersebut salah satunya makan menggunakan sumpit (sampai tak pelajari dan ternyata susah juga, saking keselnya itu sumpit tak ganti pakai sendok lagi) hingga memakan makanan yang tak sesuai di lidahku contohnya udon, takoyaki, ramen, dorayaki dsb (aku sampai buat planning, sampai Jepang nanti mau masak sendiri aja ahh padahal ntah kapan mungkin mau ke Jepang ahaha). Kebetulan setelah lulus aku memutuskan untuk gap year, tujuannya ya hanya ingin matang saja mau melanjutkan hidup ke arah mana.

D. Menuju Mimpi

Kupikir khayalan tentang Jepang hanya terlintas saja, dan Tuhan Maha Baik potongan bagaikan puzzle yang aku temui kian terisi. Ya aku bertemu dengan ex kenshuu dan sekarang mendirikan lembaga pemagangan ke Jepang jalur IM satu-satunya di daerahku. Aku bertanya segala hal tentang Jepang dan dia hanya menceritakan sekilas, jujur aku kecewa karena rasa ingin tahu ku tak terbalaskan,aku ingin tahu Jepang secara signifikan namun info yang dia berikan banyak aku dapatkan di internet. Aku tak tau alasannya, apa iya karena memang kebijakan, privasi, atau memang lagi malas ngomong dll.

Diam dan berpikir itulah yang dapat aku lakukan, mengingat perekonomian keluarga standar dan gaji di Jepang tinggi, aku kembali bertanya kali ini tentang magang. Ket : B = bapak, S = saya

B : “Kamu mau magang? Tau aksara Jepang? Semua huruf itu banyak sekali loh, kalau sanggup ya silahkan, umur mu juga baru 18 tahun belum bisa magang ke Jepang. Magang itu ga mudah beberapa orang saja yang bisa lulus.”
S : “Iya, ada 3 hiragana, katakana, kanji. Ada romaji tapi itu abjad latin. Memang banyak, malah kanji ribuan. Setidaknya usaha dulu masalah hasil urusan akhir.”
B : “Test jlpt itu suliiit sekaaaliii. Bahkan murid saya dipaksa matang.”
S : “Makanya kan belajar biar gak sulit, jlpt juga bisa loncat level kalau mau menghemat waktu asal mampu.”
B : “Kata siapa? harus berurutan dari N5,N4 dst. Tidak bisa loncat.”
S : “Internet. Ya sudah kalau memang tidak bisa magang saya kursus saja.”
B : “Maaf belum ada kelas untuk wanita, nanti akan saya bentuk.”

Pulang kerumah dengan tangan hampa, tak ada yang spesial. Malah aku merasa diragukan dan diremehkan.Aku merasa dia tak memberi ruang untuk mimpiku. Cerita ini sudah 10 bulan yang lalu namun hingga detik ini kelas untuk wanita belum terealisasi juga di lembaga itu. Mindset ku berubah bahwa otodidak juga bisa kok. Aku mulai dengan belajar hiragana dan katakana terlebih dahulu, sempat kewalahan karena selain banyak, ada tata cara menulisnya juga. Tanpa putus asa aku telan semua, belajar menulis dan mengingat, sampai aku tempel di lemari tak tulis dengan warna yang menarik biar pas tidur tetap liat dan ingat, tak lupa latihan dengan aplikasi android juga, pokoknya baik banget deh si mbah google berkat si mbah aku tau banyak hal. Yeaaayy akhirnya bisa ya walau masih terbata-bata pas baca kalimat (serasa anak SD yang baru belajar baca haha). Tak masalah yang penting ber progress.

Kemudian yang paling aku takutkan yaitu kanji, banyak banget ya Tuhaaan cobaan apalagi ini!! Okee tak apa aku pun mempelajarinya, dengan metode yang sama seperti menghapal aksara sebelumnya, sempat menggunakan metode menghapal semua bentuk, goresan, cara baca, beserta arti namun lama sekali kurasa, 2 jam hanya hapal 35 kanji saja, akhirnya ganti metode yakni menghapal bentuk dan goresannya dulu sekaligus arti dalam bahasa Indonesia 2 jam bisa menghapal 55 kanji. Bagiku cara ini lebih efektif walau perlu mengulang lagi untuk menghapal cara baca dalam bahasa Jepang, namun aku tak repot karena cara bacanya singkat-singkat hahaha.

Sambil menghapal aksara Jepang, aku mencari tahu lpk mana yang bisa kujadikan tempat kursus karena aku butuh pembimbing. Ternyata lpk di daerah ku terbatas sekali aku hanya menemukan 2 lpk saja itupun satu IM (tempatku daftar pertama namun tak ada kelas untuk wanita), dan satunya lagi swasta. Swasta jelas mahal, itupun harus yang ada izin SO, legal apa tidak, jelas apa tidak kontrak kerjanya, dan masih banyak lagi yang harus dipertimbangkan jika ingin magang. Aku pun pergi kesana hanya untuk kursus tak berniat magang, dan benar saja bagiku orang nya tidak transparan. Aku ingin kursus bahasa Jepang saja namun orang itu berkata ikut belajar bahasa Jepang saja langsung di negaranya.

Ya tak jawab ohh ryuugaku, itu mahal pak tapi ya gitu bisa langsung belajar sama native speaker dan budayanya tapi kasian orang tua ga ada biaya. Saya maunya kursus bahasa Jepang saja biar ada sertifikat jlpt. Lagi-lagi di jawab bahwa jlpt sudah dihapus. Apa maksudnya coba jelas-jelas saat itu awal bulan desember 2018, temanku juga lagi test tapi kok aneh ya, dia bilang jlpt dihapus. Aku pun akhirnya pulang dan tidak jadi mendaftar.

Tuhan masih baik padaku, tak kursus bukan berarti tak bisa kan. Aku tergabung dalam grup bahasa Jepang di WA dan Facebook. Bersyukur banget ketemu sama grup itu terutama wkwkjapan.com native speaker langsung dari Jepang dan itu gratisss tiiss tiss terlebih beliau sudah pandai bahasa Indonesia jadi lebih gampang belajar nya. Aku pun mengikuti, kadang ikut pula bertukar pendapat dengan member yang lain semakin menambah wawasan ku tentang Jepang baik budaya ataupun materi,dari yang tidak tau menjadi tau, kisah member yang lain pun menjadi motivasi bagiku. Sempat kaget karena sensei ku ini tegas sekali, peraturan yang beliau buat mengikat namun aku suka, secara tak langsung beliau mengajarkan bahwa budaya Jepang memang seperti ini adanya.

Sempat berpikir kerja sekaligus kuliah kelak disana, jika tujuannya kerja maka tidak bisa kuliah karena memakai visa kerja. Selesai kontrak mau lanjut kuliah ya tetap tidak bisa, harus pulang ke negara asal libur setahun dua tahun tergantung kebijakan baru bisa balik ke Jepang memakai visa pelajar. Itupun kalau lulus petugas migrasi Jepang yang super ketat, pernah ada kasus yang dokumennya sudah lengkap namun tetap tidak bisa masuk. Minimal uang di rekening pun Rp.200 jt untuk kuliah di jepang. Terkecuali memang sudah niat kuliah di Jepang baru bisa sekalian baito karena memang memakai visa pelajar.

Mungkin sekarang tingkatan bhs Jepang ku masih di tahap pemula namun aku optimis bisa sampai N2, magang jalur IM ke Jepang, dan mengangkat derajat keluarga menjadi lebih baik. Semoga Tuhan selalu mempermudah segala urusan kita tak perduli berapa banyak hambatan yang akan dilalui, Tuhan Maha Baik dia akan memberikan apa yang hambaNya butuhkan, bermimpi lah setinggi langit, jika tak sesuai dengan mimpimu percaya lah Dia telah menuliskan dan menggariskan skenario terindah untukmu. Iya Dia Tuhan, yang telah menciptakan dunia dan yang paling tau apa yang terbaik buat kamu. Niat, tekad,doa dan usaha tak akan membohongi hasil. Tak ada yang tak mungkin jika memang betul-betul niat. Akan ada pelangi setelah badai. Berjanjilah satu hal bahwa kita akan bertemu di puncak yang sama setelah apa yang di perjuangkan, yaitu “ KESUKSESAN “ Yasudah tak masalah hanya kerja di Jepang masalah kuliah kan bisa di Indonesia.

Ini adalah sepenggal kisahku menuju mimpi, maaf belum bisa memberi informasi, metode maupun motivasi berharga kepada para pembaca. Karena tahapan saya masih pemula, konteksnya disini adalah sama-sama berbagi pengalaman dan pelajaran. Semoga para pembaca bisa mengambil hikmah dari cerita ini bahwa kekuatan doa dan usaha itu memang benar adanya. Selain itu dituntut juga usaha yang optimal, pantang menyerah sekaligus memaksimalkan keberanian. Kenapa keberanian juga dibutuhkan? Karena aku sadar mayoritas orang Indonesia (tidak bermaksud menyinggung, namun berdasarkan logika dan fakta yang terjadi di masyarakat,termasuk diri saya sendiri) adalah orang yang penakut contoh mau bertanya takut, mau ke luar negeri takut ( intinya ya belum berperang sudah mengalah ). Buang sifat penakut ini! Jangan takut, kita gak akan tau rasanya jika belum mencoba, tapi yang dicoba hal-hal baik yah. Ibarat makan sesuatu jika belum sampai ke lidah kita ga akan tau rasanya kan (aku lagi mencoba, hmm semangat)!!
Ingin ke Jepang? maka belajarlah menjadi masyarakat Jepang. Bukankah ketika ingin menjadi sesuatu kita dituntut untuk mengetahui, menguasai dan menjadi apa yang ada di dalam nya? Maka lakukanlah! Sekian.

NB : Gambar sebagai pemanis, untuk gambar aksara Jepang merupakan gambar original penulis.

Penulis : Nurfinna Haviz