Selembar Kisah dengan Manusia Jepang

finalis_lomba_2020, lomba_2020Budaya & Kehidupan, Cinta & Gaul sama Orang Jepang, Lomba Menulis, ★kelas kita (クラスでの活動)

Kalau tentang pengalaman dengan orang Jepang, jika dibandingkan dengan para senpai-senpai atau teman-teman, mungkin kisahku masih bisa dibilang seperti epilog cerita yang bahkan belum sampai inti cerita, karena jujur saja aku seorang seorang pemalu yang takut untuk berinteraksi dengan orang yang baru dikenal dan sedikit menjalin hubungan dengan orang-orang baru. Tapi, kali ini aku akan menceritakan kisahku tentang beberapa pengalaman tentang orang Jepang yang pernah aku temui selama kurang lebih 22 tahun di hidupku ini.

Jepang Pertama di Hidupku

Mengetahui tentang Jepang dan segala hal yang ada di dalamnya mungkin berawal dari sebuah anime , ya benar, anime memang budaya Jepang yang mendunia bahkan sampai ke Indonesia. Waktu itu tahun 2012, aku masih berada di Sekolah Menengah Pertama tahun tiga di salah satu daerah di Jakarta Barat. Awalnya aku tidak pernah tertarik dengan hal-hal tentang Jepang sampai pada akhirnya aku menemukan suatu anime berjudul Sword Art Online lewat perbincangan orang-orang di suatu game online. Aku pun bingung apa itu Sword Art Online, sampai akhirnya aku mencarinya di mesin penelusuran Google dan menemukan bahwa itu adalah sebuah kartun Jepang. Bercerita tentang seorang pemuda yang masuk kedalam video game virtual augmentation dimana kesadaran orang yang masuk ke dalam video game tersebut benar-benar menjadi nyata dan mereka tidak dapat keluar dari video game tersebut sampai harus mengalahkan boss terakhir di dalam video game tersebut. Ceritanya sangat menarik dan juga unik dari Anime tersebutlah aku mulai penasaran dengan segala kartun dari Jepang, bahkan aku pernah ingin menjadi animator karena menurutku dapat menggambar karakter anime dengan tanganmu sendiri itu keren.

Mungkin pada masa itu belum terlalu ingin tahu tentang Jejepangan dan sebagainya, hanya sebatas keinginan untuk mencari anime yang lebih menarik lagi. Keingintahuanku terhadap Jepang baru dimulai ketika aku memasuki masa Sekolah Tingkat Atas yang berada di daerah Jakarta Barat, SMAN 112 tepatnya, dari sanalah aku mulai masuk (terjerumus) kedalam hal-hal yang berbau Jejepangan, dulu waktu aku kelas satu ada pelajaran bahasa Jepang dan aku sangat suka pelajaran tersebut karena memang dari awal aku sudah mengenal Jejepangan terlebih dahulu, lalu ditambah lagi aku ikut serta dalam ekstrakurikuler Jejepangan bernama Japanese Club atau kami menyebutnya dengan sebutan Jacls, dari sana aku semakin mendalami tentang hal-hal berbau Jejepangan, dari bahasa, budaya, sejarah, sampai kebiasan-kebiasaan orang Jepang. Harus aku akui bahwa pada masa itu sekitar tahun 2012 akhir banyak sekali bermunculan orang-orang yang menyukai Jejepangan, tidak hanya di Internet, di publik pun ramai sekali dengan hal-hal yang berbau Jejepangan, seperti event-event Jejepangan yang marak dibentuk dan ramai sekali pengunjungnya salah satunya Jiyuu Matsuri yang diadakan oleh Pendidikan Bahasa Jepang UNJ di Jakarta, lalu ada AFA ID, event Jejepangan dengan skala internasional yang diadakan setahun sekali sampai banyak dari mereka (pecinta Jejepangan) yang menjadikannya ritual tahunan untuk datang kesana demi mendapatkan merchandise karakter anime favorit mereka. Aku dan teman-teman klub Jejepanganku selalu datang bersama ke acara Jejepangan itu, selain dapat menyatukan ikatan kami, sekaligus untuk menguji kemampuan tentang pengetahuan yang kami dapat dari klub dalam bentuk lomba-lomba Jejepangan, seperti cerdas cermat, tata bahasa bahasa Jepang, pidato dalam bahasa Jepang, sampai karaoke tentang lagu-lagu Jepang.

Orang Jepang yang Kutemui

Memakai yukata bersama sensei

Aku pernah bertemu dengan orang Jepang, dia baik sekali. Rambutnya ikal, kulitnya putih, dan mukanya yang sangat Jepang kami memanggil beliau Naomi-sensei, sudah lama tinggal di Indonesia dan waktu itu beliau sempat tinggal di Malang. Beliau menjadi pelatih di klub Japanese Club kami, beliau sangat aktif dalam memberikan pengajaran dan juga sangat disiplin dalam mengajarkan ilmu kepada kami. Pernah beliau mengadakan acara minum teh bersama, beliau sendiri yang membawakan teh, kue dari ubi buatan beliau sendiri, dan juga snack Jepang manis yang pas untuk menemani minum teh. Sebenarnya beliau mau memberitahu tentang budaya minum teh di Jepang, Chanoyu/Sadou sebutannya, karena hal tersebut tidak memungkinkan dikarenakan banyak sekali hal yang harus dipersiapkan seperti tempat, peralatan teh, ruangan, dan segala gerakan yang memang menyusahkan untuk dipraktekan, akhirnya kami hanya diberitahu cara membuat teh yang benar oleh beliau. Banyak kegiatan yang kami lakukan bersama beliau, salah satunya membuat teh tadi, lalu terakhir sebelum beliau pergi (selesai mengajar kami) beliau mengajarkan kami cara memakai yukata, ya, baju tradisional Jepang, jika dipakai sama seperti baju gamis tapi dengan lipatan kain yang rumit dan agak longgar, jika kalian pernah mendengar atau melihat kimono, baju ini sama persis, tetapi dengan sedikit lembaran kain yang digunakan, biasanya digunakan saat festival musim panas, tapi, tidak hanya dipakai saat festival, tapi juga di acara-acara santai seperti menginap di ryokan (sejenis penginapan yang umumnya ada onsen (pemandian air panas)).

Lalu, tidak lama setelah itu sekitar waktu kelas satu di semester akhir, sekolah kami mendapati kunjungan siswa-siswi dari salah satu sekolah swasta yang berada di daerah Chiba, Jepang. Ada sekitar 30 siswa-siswi berasal dari Jepang berkunjung ke sekolah kami, sebenarnya mereka sedang mengadakan study tour ke Indonesia dan kebetulan sensei kami yaitu Ika-sensei membuat mereka datang ke tempat kami. Banyak yang mereka lakukan di tempat kami, mereka berkunjung ke setiap kelas secara berkelompok dan berbaur dengan kami, banyak dari kami berfoto bersama mereka, ada juga yang sksd dengan mereka karena jujur saja memang mereka cantik-cantik, mereka juga bermain basket di lapangan tanpa peduli mereka dimana, dan juga banyak dari kami terutama para kakak kelas kami yang menerima mereka sebagai tamu homestay di rumah mereka dan mengajak siswa-siswi Jepang itu untuk berkenalan dengan keadaan suasana di Jakarta selama kurang lebih dua hari. Setelah mereka puas keliling Jakarta, sebelum mereka berpamitan, kami juga mengadakan acara perpisahan dengan mereka, acara tersebut banyak menampilkan penampilan untuk menghibur tamu undangan terakhir kalinya. Klub Jepang kami pun memberikan kenang-kenangan kepada seorang siswi yang sudah cukup kami kenal. Setelah acara berakhir kami pun berfoto-foto lagi bersama mereka, aku sangat menantikan momen-momen ini, tapi aku tidak berani meminta untuk berfoto bersama seorang yang menurutku dia cantik dan baik hati. Akhirnya, aku meminta tolong ke temanku agar dia foto duluan dengannya lalu aku meminta temanku agar dia mau berfoto denganku. Beruntungnya dia mau untuk berfoto berdua denganku, senang sekali bisa dapat berfoto dengannya. Perempuan Jepang itu menggunakan name tag dengan bertuliskan Aoi Wada. Nama perempuan itu Aoi Wada kami memanggilnya Aoi meskipun harusnya kami memanggilnya Wada agar lebih sopan (Wada itu seperti nama marga/keluarga di Jepang, kalau Aoi itu nama pemberian dari orang tua, dan kalau belum kenal harusnya memanggil nama marganya), karena ini bukan di Jepang dan kami bukan orang Jepang, dia mengerti dan tidak keberatan kami memanggilnya dengan nama pemberiannya.

Berfoto bersama Aoi pertama kali

Setelah aku berfoto dengannya temanku meminta ID line Aoi, ya, dan akupun meminta ID-nya ke temanku, tapi aku malu untuk mengirim pesan ke dia karena aku hanya sebatas orang asing baginya yang hanya mencoba untuk foto bersamanya. Pada malam hari, akhirnya aku memutuskan untuk mengirim pesan, karena aku tidak bisa bahasa Jepang waktu itu, akhirnya aku mengirim pesan dengan menggunakan bahasa Inggris kira-kira isinya seperti ini “Thank you for taking photo with me today", tapi sayang, pesanku hanya di-read olehnya, aku tidak tahu apakah dia tidak mengerti bahasa Inggris (mengingat orang Jepang jarang yang pandai berbahasa Inggris) atau memang tidak mau menerima pesan dari orang asing, atau keduanya. Ingin rasanya kenal lebih jauh dan lebih dari teman, tapi apa daya, dia hanya mengabaikan orang asing yang datang menghampirinya. Kalau kalian ingin cerita dengan bumbu kebaperan, mungkin aku bisa memberikannya sedikit.

Kisah ini tidak berhenti sampai sini saja, ya benar, aku masih berkomunikasi dengan Aoi, meski terhalang dalam ruang dan waktu. Kami berkomunikasi dengan menggunakan aplikasi messenger line, beruntung aku masih menyimpan kontaknya setelah hampir tiga tahun tidak pernah aku kirim pesan kepadanya. Perlu kalian ketahui, aplikasi line cukup populer di Jepang sebagai aplikasi pengirim pesan (menurut pengamatanku), seperti halnya WhatsApp di Indonesia yang cukup populer di kalangan orang tua, aplikasi ini lebih populer dikalangan anak muda, dan kebetulan Aoi memakai line dan masih aktif sampai sekarang, jadi mudah bagiku untuk menghubunginya kembali setelah tiga tahun kemudian. Selain line, twitter paling ramai digunakan sebagai social media di Jepang, jadi, Aoi lebih aktif di twitter dibandingkan di line.

Setelah tiga tahun berlalu semenjak aku mengirimkan pesan pertama ku kepada Aoi dan akhirnya aku lulus SMA lalu melanjutkan ke pendidikan yang lebih tinggi yaitu strata satu di UNJ Pendidikan Bahasa Jepang. Aku ingat waktu itu saat awal semester tiga, ingin sekali untuk mengasah kemampuanku dan aku ingat pernah sksd dengan seorang Jepang yang tidak membalas pesanku, dan akhirnya aku menghubungi Aoi untuk kedua kalinya saat itu. Aku ingat waktu itu dalam perjalanan pulang dari kampus pada dan sedang menunggu kereta ke arah Serpong, aku pulang pergi menggunakan kereta KRL commuter line Jabodetabek, memberanikan diri untuk mengirimkan pesan kepada Aoi karena aku sudah percaya diri dengan kemampuan bahasa Jepangku bahwa aku sudah cukup bisa untuk berkomunikasi dengannya walau dengan terbata-bata melihat kanji dan beberapa bunpo yang belum pernah dipelajari sebelumnya. Tak disangka ternyata dia membalas dengan hangat pesanku seketika, kira-kira berbunyi seperti ini “renraku kurete ureshii yo~”, dimana artinya kurang lebih seperti ini ‘Aku senang loh kamu menghubungiku’, bagaikan bunga sakura yang mekar di musim semi, hati ini berdebar sangat senang sekali, aku tidak menyangka kalau dia masih ingat denganku, dari kejadian itulah sampai saat ini aku masih berkomunikasi dengannya walau hanya melalui aplikasi messenger, akhirnya kami berkenalan dan melakukan basa-basi dengannya, meskipun interval kirim dan terima pesannya tidak terlalu cepat (biasanya akan dibaca setelah satu jam atau lebih) itu sudah cukup bagiku.

Akhirnya sudah lima tahun aku mengenal Aoi, meskipun kami hanya pernah bertemu sekali dan dengan ketidaksengajaan, banyak hal yang terjadi dalam hubungan pertemanan kami. Meskipun segala hal didominasi oleh diriku yang memulai “sesuatu” terlebih dahulu. Seperti waktu itu, aku pernah mendapatkan tugas untuk membuat kartu tahun baru dalam mata kuliah sakubun ‘merangkai’, untuk mempraktekan langsung kepada orang Jepang akhirnya kuputuskan untuk mengirimkannya selembar nengajo (kartu ucapan tahun baru). Tradisi nengajo ini biasanya dilakukan setiap tahunnya oleh orang Jepang sebagai bentuk perayaan tahun baru dan juga untuk mempererat hubungan antar sesama, bisa juga sebagai bentuk ungkapan untuk menyambut tahun berikutnya. Jika kalian punya kenalan orang Jepang, sebaiknya kalian kirimkan nengajo ini untuk mereka, karena dengan hal tersebut mereka akan merasa lebih dihargai hubungannya dengan kalian, dan mereka akan dengan senang hati menerimanya. Bagi orang Jepang, tradisi mengirim nengajo ini wajib hukumnya, karena kalau tidak sampai mengirim, biasanya akan ada prasangka buruk pada salah satu pihak (misalnya apakah sudah meninggal, atau tidak mau berhubungan lagi, dan sebagainya). Nengajo harus diterima tepat saat hari pertama tahun baru yaitu tanggal satu Januari, dan keterlambatan hanya terbatas sampai tujuh hari, jika lewat dari waktu tersebut, maka prasangka buruk seperti yang sudah dijelaskan sebelumnya. Kalau di Jepang, biasanya kita harus mengirim nengajo sebelum tanggal 25 Desember, dan nanti pihak pos di Jepang akan menyortir apakah surat tersebut nengajo atau hanya surat biasa, dan akan otomatis dikirimkan pada tanggal satu Januari, hari pertama tahun baru.

Aku melihatnya sangat senang saat menerima nengajo dariku, dia berjanji akan mengirimkan surat balasan kepadaku, tapi, semua itu hanya bualan belaka, alasannya selalu tidak sempat untuk mengirim surat karena dia sedang baito (kerja part time), aku selalu menunggu balasan surat tersebut, dan akhirnya sampai sekarang pun belum pernah menerima surat balasan dari dirinya, meskipun kami sering berkirim pesan menggunakan aplikasi line, tapi rasanya akan berbeda jika pesan tersebut ditulis langsung oleh orang itu sendiri. Tidak berharap lebih, hanya ingin Aoi membalas surat yang aku berikan kepadanya. Kadang hidup kelam seperti ini, sesuatu yang kau harapkan, jarang terkabul.

Tidak selalu aku yang memulai perbincangan terlebih dahulu, terkadang dia sering memberikan fotonya jika ada sebuah kegiatan atau event yang sedang berlangsung. Waktu itu Aoi mengirimkanku sebuah foto dirinya bersama teman-temannya saat hari seijin-shiki (atau hari kedewasaan di Jepang), anak muda yang sudah berumur 20 tahun akan diundang oleh pemerintah lokal sebagai penghormatan bagi mereka karena sudah resmi menjadi orang dewasa, di Jepang umur kedewasaan adalah 20 tahun, berbeda dari Indonesia dimana masyarakat menganggap bahwa umur kedewasaan pada umur 17 tahun. Kalau di Jepang, mungkin umur 20 tahun merupakan umur yang pas dan sudah matang secara pengalaman dan pengetahuan. Perayaan ini biasanya diselenggarakan di minggu kedua bulan Januari, dan perempuan memakai kimono berjenis furisode.

Seijin-shiki dan kimono furisode

Banyak cerita yang terjadi selama hampir lima tahun ini bersama Aoi, meski kami hanya berkomunikasi lewat dunia virtual, tapi, rasanya kami sudah dekat, meskipun mungkin hanya aku yang mempunyai pikiran ini, tapi, aku senang karena sebagai orang yang belajar bahasa Jepang dapat berkenalan dengan orang Jepang langsung. Meski kadang aku sering “terbawa perasaan" sendiri saat berkomunikasi dengannya, seakan-akan aku satu-satunya orang yang dia kenal, meskipun tahu bahwa dia sudah memiliki kekasih. Aku berharap suatu hari nanti, aku ingin bertemu lagi walau hanya sekedar untuk berfoto lagi berdua dengannya, itulah alasanku ingin pergi ke Jepang, motivasi yang mungkin sebagian orang bilang mustahil, tapi aku percaya akan hal tersebut dan sekarang hanya masalah waktu sampai hal tersebut terjadi. Untuk saat ini, meskipun hanya sekadar dapat berkomunikasi dengannya, aku cukup senang.

Bersikap dengan Orang Jepang

Untuk kalian sekarang yang baru atau sedang belajar bahasa Jepang, atau mungkin yang ingin berangkat ke Jepang alangkah baiknya menjaga sikap jika berhadapan dengan orang Jepang, karena orang Jepang sangat sensitif dengan orang yang tidak mereka kenal, tapi lain cerita jika sudah kenal dan akrab. Jagalah etika berbicara, pakailah bahasa sopan bentuk masu-desu jangan gunakan bentuk biasa atau futsuu-kei, karena kalau salah menggunakan bisa berakibat fatal. Beberapa orang Jepang masih tidak peduli apakah yang berhadapan dengan mereka itu orang luar negeri atau bukan, bisa berbicara bahasa Jepang atau tidak, mereka akan sensitif jika ada sesuatu yang dapat membuat mereka risih. Tapi, beberapa orang Jepang juga ada yang sudah mengerti bahwa mereka orang asing dan akan memaklumi budaya mereka, karena mereka sudah paham bahwa ada yang namanya perbedaan budaya.

Sebagai contoh, aku pernah punya teman waktu SMA, dan dia juga berada di klub bahasa Jepang kami. Ceritanya sama denganku, tapi kalau dia mendapatkan akhir yang tidak mengenakan. Waktu itu dia juga sempat mencoba berkomunikasi dengan Aoi lewat aplikasi line, meskipun menggunakan bahasa Inggris, dan berlangsung cukup lama hubungan mereka, tapi apa daya nasi sudah menjadi bubur, temanku ini tidak sengaja berterima kasih menggunakan kata gaul, iya, jadi dia mengucapkan terima kasih dalam bahasa Jepang tapi itu sangat tidak sopan bagi mereka yang belum terlalu akrab, temanku mengirim pesan dengan menggunakan kata sankyuu (diambil dari kata bahasa Inggris thank you), karena dia belum tahu apa-apa tentang Jepang, maklum waktu itu kami hanya belajar bahasa Jepang dasar yaitu hiragana, katakana, dan juga percakapan dasar bahasa Jepang jadi tidak tahu kalau itu mengatakan sankyuu kepada orang Jepang yang dikenal sangat tidak sopan, lalu kontak line temanku langsung diblok oleh Aoi, dan dia tidak bisa berkomunikasi dengannya.

Juga, pernah temanku pergi ke suatu tempat, waktu itu aku ingat mereka pergi bersama Naomi-sensei menghadiri acara lomba pidato bahasa Jepang tingkat nasional, mereka berjanji bertemu sekitar pukul sepuluh pagi, tapi temanku telat hampir dua puluh menit, mereka malah diceramahi oleh sensei kalau nanti selanjutnya harus datang tepat waktu jika ada janji dengan orang lain.

Naomi-sensei juga sering mengoreksi bahasa Indonesia kami, aneh ya, padahal beliau orang Jepang, tapi beliau pula yang peduli terhadap bahasa Indonesia. Kami malu kalau menceritakan hal ini kepada orang lain. Ketika kita ditawarkan sesuatu atau apapun maka biasanya kita akan menjawab dengan “boleh", misalnya, “Kalian mau sensei bawakan snack untuk pesta saat kegiatan klub nanti?", serentak pasti kami akan menjawab, “boleh, sensei", langsung beliau mengatakan kepada kami “Boleh atau mau?", langsung kami malu dan mengoreksi ucapan kami tadi dengan, “Ah, iya, mau, sensei" berkata hal tersebut sambil menahan malu, sungguh pengalaman yang memalukan, meskipun bagi kita bahwa hal tersebut dianggap sepele, tapi, jika bagi orang asing, apalagi sampai kita yang dikoreksi oleh mereka, maka hal tersebut merupakan sebuah aib yang besar, dan malu bagi kita kalau sampai salah dalam berbahasa kepada orang asing yang notabenenya bukan bahasa mereka.

Terima kasih bagi kalian yang sudah mau menyempatkan diri untuk membaca “curhatan" ku selama aku mengenal segala hal tentang Jepang dan manusianya. Semoga artikel ini berguna bagi kalian sebagai tambahan pengalaman untuk nanti bagaimana harus bersikap kedepannya.

Penulis: Muhamad Fauzi