Acara Now!

Masih Ada Semangat? Gas Terus!! (karya lomba menulis 2021)

lomba_2021Lomba Menulis, Semangat Pejuang Bahasa Jepang

Awal mula ketertarikan dengan Jepang

Di tahun 2018. . . berlatar sore hari di Kota Bandung, saat itu aku tengah menyaksikan drama Jepang dengan temanku, yang katanya sih seru. Film yang menarik, alur ceritanya juga tidak terduga dan yang paling menarik perhatiaku adalah pembawaan karakter dari si tokoh utama. Kesan pertama yang didapat “Gila… sombong amat”, kali kedua “Sumpah keren banget ini orang”.
Dari sanalah aku mencoba menirukan apa-apa yang dia (karakter fiktif di film) ucapkan di film, walaupun aku sendiri tidak tahu apa yang sebenarnya aku ucapkan ini, tapi aku tetap merasa senang saat melakukannya, lama-lama jatuh cinta dengan bahasa Jepang.

Apa yang pertama dipelajari?

Bukan Kanji, bukan Hiragana ataupun Katakana, tapi kosakata. Ya kosakata, kenapa kosakata?, karena awalnya hanya ingin tahu apa sih yang selama ini aku ucap dalam bahasa Jepang. Ehh tahunya ketagihan terus, dari bahasa Jepangnya satu sampai sepuluh (1-10), nama-nama hari, bulan, tahun, musim sampai binatang disikat, nah dari situ mulailah belajar baca dan tulis huruf hiragana dan katakana, biar lebih seru bikin flashcard sendiri.

Gak lama udah hafal semua dong cara penulisan dan penyebutan hurufnya, pokoknya sudah nempel banget di kepala sama hati. Suatu hari telinga ini dilayangkan dengan kalimat-kalimat “tahu anim yang banyak raksasanya gak?” “udah nonton enim yang itu belum?, rame beuh!”, what?! enim?, anim?, anime lohh “A-NI-ME”. Sejujurnya faham sih mereka coba baca “Anime” dengan pengucapan bahasa Inggris, tapi… perasaan apa yang mengganggu jiwa dan ragaku ini. Setelah itu teringatlah dengan orang-orang yang sewot dengan melihat papan bertuliskan “DISINI”, “Ahh… ini… apa ini perasaan orang-orang yang sudah belajar penggunaan kata depan DI”, dan aku juga belajar beberapa huruf Kanji. Mungkin salah satu cara jitu belajar huruf Kanji versiku itu… pertama baca, lalu langsung tulis di kertas, menurutku orang yang bisa menulis lebih berpotensi dapat membaca apa yang ditulisnya dibandingkan dengan orang yang bisa membaca namun tidak bisa menulis. Memang untuk menulis huruf Kanji tidaklah mudah, huruf dengan 10-13 goresan/stroke sih masih oke, nah lebih dari 15 stroke… mungkin agak sedikit membuat mata perih, tapi kalau hati sudah bilang “Ya tulis aja dulu” biasanya berhasil.

Kemunculan pihak ketiga

Di bagian ini sudah tahun 2019, tahun di mana mulai muncul perasaan ingin pergi ke Jepang, di samping itu tahun ini juga menjadi salah satu tahun yang cukup berat untuk dijalani. Di bulan Febuari ayahku meninggal dunia dan saat itu aku masih sekolah di Kabupaten Bandung “jadi masa SMK itu… aku tidak tinggal dengan orang tua”. Beberapa bulan kemudian mulailah melamar pekerjaan ke berbagai tempat, dapatlah panggilan kerja untuk penempatan di Jakarta, berbekal uang 400 ribu rupiah dan tidak lupa juga membawa buku catatan Jepangku, niatnya untuk dibaca saat waktu luang, Tinggal di Jakarta sekitar 1 minggu, tapi dalam kurun waktu itu aku tidak menemukan suasana dan waktu yang pas untuk membaca buku. Kenyataan yang harus aku terima, ternyata ini bukan perusahaan yang benar dalam tanda kutip. Di dalam bus dalam perjalanan pulang ke Bandung aku nangis, ya menangis karena uang, uang hasil dari magang di perusahaan ku bekerja sebelumnya. Jujur keluargaku ini termasuk ke golongan ekonomi rendah, uang 400 ribu rupiah jelas sangat berarti.Tiba-tiba teringat dengan keluarga di rumah “hahh… yang di rumah pada makan apa ya?, 400 ribu… bisa buat beli berapa bala-bala coba”. Setelah itu mencoba lagi melamar pekerjaan dan ada beberapa diantaranya yang mendapat panggilan untuk interview, panggilan pertama sesi tes dan yang kedua interview, tidak tahu kenapa aku merasa kegagalanku itu selalu ada di sesi interview di pertanyaan “punya laptop?, punya motor”, ya memang pekerjaan yang dituju itu berhubungan dengan teknologi, jadi mungkin sudah wajar jika tidak punya laptop dan motor… susah mendapatkan pekerjaan ini. Munculah pikiran “sepertinya semua yang aku pelajari ini gak ada gunanya”. Ya betul, pihak ketiga yang aku maksud di sini adalah PUTUS ASA.

Back to track

Perasaan ingin mengunjungi negeri Sakura masih ada, sebelumnya juga aku sempat daftar magang di Jepang di BLKPMI Bandung,namun tidak lolos. Melihat dari daftar hasil peserta yang lolos… sepertinya yang menjadi salah satu faktor lolos atau tidak itu adalah usia, “ masa harus tunggu beberapa tahun lagi sih harus bisa pergi ke Jepang, gimana ya caranya pergi ke Jepang di usia segini, kalau gak kerja… paling liburan ke Jepang”, ehh gak tahunya masih ada jalan lain yaitu beasiswa pendidikan. Targetku dalam 2 tahun kedepan sudah diputuskan, aku akan pergi ke Jepang. Saat ini aku sudah bekerja di perusahaan swasta dan keadaanku sekarang sudah lebih baik, informasi soal Jepang dan beasiswa bisa lebih mudah didapat. Sekarang aku sedang fokus belajar bahasa Jepang, karena aku tidak mau kehilangan kesempatan yang mungkin hanya bisa didapat sekali ini saja. Aku tidak mau menyesal, tidak mau kalah dan tidak mau semua pengorbanan yang sudah dilakukan terlihat tidak berarti. Ingat GOAL awal mungkin akan memberikan semangat unlimited untuk kamu yang sedang memperjuangkan sesuatu. Kepada para pembaca… inilah awal perjalananku menuju Jepang. (Catat itu catat!)

Penulis: Ari pratama