Kekuatan Impian: Sebuah Kilas Balik dari Masa Kuliah dan Kerja di Jepang Sampai Sekarang

mimpiBudaya & Kehidupan

 

Kali ini, saya mau menulis tentang “kekuatan impian”. Sebenarnya, saya mau nulisnya pas setelah resolusi tahun baru dari anggota muncul di awal tahun tempo hari, tapi apa daya… kadang-kadang saya suka sok sibuk, jadinya banyak draft tulisan yang mangkrak. Saya coba selesaikan 1 tulisan malam ini, dan kayanya akan puanjang sekali… Ah, kapan ya saya bisa bikin tulisan pendek… Semoga nggak bosan membacanya.

Membaca resolusi tahun baru dari anggota di sini, saya ikut senang ketika ada yang menulis tentang harapan dan mimpi-mimpi yang ingin dicapainya pada tahun ini. Namun saat membaca, ada yang memberi tambahan “tapi mustahil deh…” pada harapannya, kok saya merasa sedih dan gimanaa gitu… Bagaimana mereka bisa memastikan sesuatu yang belum terjadi sebagai sesuatu yang “mustahil”? Apa sudah dicoba? Atau cuma dibayangkan saja??

 

Pengalaman Beasiswa di Jepang

Dulu, pada akhir masa kuliah, saya punya impian “ingin tinggal di luar negeri sampai umur sekian sekian.” Nah, impian itu yang memotivasi saya untuk berusaha mewujudkannya. Saya bukan dari keluarga kaya yang tinggal minta duit ortu untuk modal hidup di luar negeri. Jadi kalau saya ingin tinggal di luar negeri, saya harus berusaha sendiri. Kenapa sih, saya ingin tinggal di luar negeri? Karena, saat kuliah saya pernah dapat beasiswa dari Kementrian Pendidikan Jepang untuk belajar selama 1 tahun di universitas di Jepang (saya memilih Osaka University of Foreign Languange/ 大阪外国語大学 yang sekarang telah menjadi satu dengan Osaka University). Pengalaman selama 1 tahun itu sangat berkesan bagi saya. Saat itu saya mengumpamakan, Indonesia adalah sebuah bola, dan selama ini saya hidup di dalam bola itu. Tinggal di Jepang, membuat saya bisa melihat bola itu secara utuh, bukan sekadar tanah datar yang bisa dilihat dengan tengok kiri tengok kanan saja. Perumpamaan yang aneh, ya? Tapi asli… saat itu, itulah yang saya rasakan. Selain berkenalan dengan orang-orang Jepang, yang bahasanya saya pelajari di kampus, saya juga melihat langsung apa yang sebelumnya hanya saya lihat di TV, saya baca di majalah atau buku-buku. Dan ada tambahan bonus, saya jadi bisa punya teman dari berbagai negara.

 

Keinginan Saya Tetap “Tinggal di Luar Negeri”

Setelah lulus kuliah, saya sempat bekerja di beberapa tempat. Jadi pengajar paruh waktu di universitas swasta, jadi pegawai di kantor rektorat sebuah universitas swasta, jadi agen asuransi, dan yang terakhir jadi koordinator kursus bahasa asing dan kursus bahasa Indonesia untuk penutur bahasa asing yang dikelola oleh Kantor Hubungan Internasional sebuah universitas yang berkampus di beberapa tempat di Surabaya. Di gedung tempat saya berkantor, ada beberapa perwakilan badan pendidikan dari beberapa negara. Saya sering bertanya ke sana sini, tentang informasi sekolah di negara-negara itu. Keinginan saya adalah “tinggal di luar negeri”, dan waktu itu, saya tidak membatasi harus ke Jepang. Pokoknya luar negeri ^^ Jadi sambil bekerja, saya mencari info untuk bisa ke luar negeri. Saat ada pembukaan pendaftaran beasiswa, saya juga menyiapkan persyaratan yang diperlukan. Dokumen ini itu, ujian TOEFL, dll. Pas bingung memilih sekolah, sebuah kabar berhembus, “ada lowongan kerja sebagai penerjemah di kantor walikota Kochi, Jepang”. Saat itu, saya sama sekali tidak familier dengan kota Kochi. Karena waktu kuliah, paling mentok saya main sampai Tokushima.

 

Lulus dari JET Programme

Saya mendaftar program yang ditawarkan melalui Konsulat Jenderal Jepang di Surabaya. Nama programnya adalah JET Programme. Program ini tidak terlalu terkenal di Indonesia, karena memang hanya merekrut orang dalam jumlah sedikit. (Saat ini JET Programme telah berjalan selama 30 tahun, tetapi alumni dari Indonesia belum sampai 10 orang). Setelah ikut seleksi tertulis dan wawancara, ternyata saya lolos. Saat saya berangkat, hanya saya dan seorang pelatih badminton yang dari Indonesia. Padahal peserta dari seluruh dunia yang ikut pada tahun kedatangan saya (2004) ada sekitar 6.000 orang (dibagi menjadi 3 gelombang kedatangan). Ada 3 pekerjaan yang ditawarkan yaitu sebagai ALT (Assistant Language Teacher, membantu guru di sekolah mengajar bahasa asing), CIR (Coordinator of International Relations, membantu mengurusi hubungan internasional di instansi tempat tugasnya, saya ikut ini), dan SEA (Sports Exchange Advisor, biasanya melatih olahraga di sekolah atau klub-klub).

 

Tinggal di Jepang sebagai Pekerja

Tinggal di Jepang sebagai pekerja, tentu saja berbeda dengan saat saya tinggal di asrama sebagai mahasiswa. Saya harus mengurusi segala hal sebagai seorang dewasa. Membiasakan diri dengan pekerjaan dan sistem yang berlaku, bersosialisasi dengan orang-orang baru, membiasakan telinga dengan bahasa yang agak berbeda dari yang biasa saya dengar pada pelajaran 聴解 choukai = listening, benar-benar suatu pengalaman yang sangat berharga.

Tugas utama saya saat itu adalah membantu mengurusi sister city antara kota Kochi – Surabaya. Menjadi penerjemah baik lisan maupun tulisan. Selain itu, saya juga berkunjung ke institusi pendidikan (mulai SD sampai universitas, termasuk beberapa kali ke SLB), membuka kelas untuk warga masyarakat, untuk memperkenalkan Indonesia kepada mereka. Kalau saya kurang mampu memberikan suatu materi, maka saya akan minta bantuan orang Indonesia yang ada di situ. Misalnya mengajar gamelan (kebetulan di Kochi ada 1 set gamelan), mengajar membatik, mengajar menari yang kesemuanya di luar keahlian saya^^ Kontrak kerja awal saya adalah maksimal 3 tahun, tetapi menjelang tahun ketiga, ada peraturan baru, bahwa jika organisasi penerima dan peserta JET sepakat, kontrak bisa diperpanjang sampai 5 tahun. Jadilah saya di kantor walikota selama 5 tahun.

 

Habis Kontrak 5 Tahun, Tetapi Masih Ingin Tinggal di Jepang!

Setelah masa 5 tahun selesai, saya masih ingin tinggal di Jepang, karena kan saya maunya sampai umur sekian sekian, dan saat itu masih umur sekian sekian kurang 5 tahun. Jadi setelah selesai masa kontrak JET, saya cari-cari kerja baru. Tidak langsung dapat. Saya sempat menganggur selama hampir 2 bulan. Atas kesepakatan dengan pak suami, kalau setelah 3 bulan saya tidak dapat pekerjaan baru, kami pulang. Jadinya, nyari kerjaan sambil nyicil packing.

Selama masa menganggur, saya dapat tunjangan karena selama saya bekerja saya membayar asuransi tenaga kerja. Secara rutin saya datang ke kantor Hello Work (lembaga yang membantu menghubungkan pencari kerja dengan pemberi kerja). Saat itu ada beberapa lowongan yang dirasa cocok untuk saya, yaitu sebagai tur guide. Akan tetapi saat itu saya ada 2 balita, yang tidak mungkin saya tinggal bepergian terlalu sering, akhirnya saya putuskan untuk tidak melamar ke perusahaan itu. Saya juga melamar ke instansi pemerintah Indonesia di Tokyo, tapi sayang sekali saat itu mereka sedang mengetatkan anggaran jadi tidak bisa merekrut karyawan baru.

 

Akhirnya Diterima sebagai Karyawan Tetap

Menjelang 2 bulan masa mengaggur, pada suatu hari saya ngobrol dengan salah satu walimurid teman Si Besar. Ternyata beliau sedang mencari karyawan yang ngerti bahasa Inggris. Langsung saja, saya bilang, kalau saya lagi nyari kerja. Saya diminta datang ke kantornya untuk dikenalkan dengan orang besar kedua di situ. Setelah ngobrol ini itu, akhirnya mereka sepakat menerima saya, dan pak suami juga!! (Saya jadi pegawai tetap, pak suami kerja paruh waktu). Pekerjaan di kantor itu, selain pekerjaan kantoran biasa, mereka juga punya beberapa online shop, dan sering ada pembeli dari luar negeri atau orang asing yang tinggal di Jepang, jadi saya diminta menangani korespondensi itu. Saat saya bekerja memasuki tahun kedua, tiba-tiba ada telepon dari instansi pemerintah Indonesia yang pernah saya lamar di Tokyo, meminta saya untuk bekerja di sana. Laaah… piye to… saya sudah kadung kerja, nggak enak kalau pindah-pindah. Akhirnya terpaksa saya tolak.

 

Hidup Berjauhan dengan Keluarga

Sejak awal saya tidak pernah punya keinginan untuk tinggal di luar negeri selamanya. Jadi, kalau sudah saatnya pulang, maka saya akan pulang ke Indonesia. Karena itu, saat Si Nomor Dua menjelang masuk SD, pak suami dan anak-anak pulang ke Jawa duluan. Mumpung timingnya pas. Saya masih tinggal, karena belum umur sekian-sekian 😀 Jadilah kami sekeluarga berjauhan selama 3 tahun. Untung sekali saat itu sudah ada internet wkwkw, jadi bisa video call sambil membantu anak-anak belajar pelajaran SD di Indonesia.

 

Pasca Tinggal di Jepang

Sepulangnya mereka ke Indonesia, saya melanjutkan kehidupan saya di Jepang. Sambil mempersiapkan kepulangan yang kurang 3 tahun, saya mencari-cari pekerjaan di Jepang yang bisa saya kerjakan dari mana saja (terutama dari rumah, karena saya sudah malas membayangkan kemacetan Surabaya). Akhirnya saya melamar ke beberapa agen penerjemahan di Jepang dan Vietnam. Saat saya mengajukan pengunduran diri di kantor tempat saya bekerja karena saya sudah berumur sekian-sekian, saya sudah punya bayangan apa yang akan saya kerjakan di Surabaya nantinya.

 

Kekuatan Impian

Begitulah kisah saya mengejar impian. Jadi, kalau kalian punya impian, berusahalah mencapainya. Soal itu akan terwujud atau tidak, bukan hak kita untuk memutuskan, apalagi sampai memvonis “mustahil” untuk sesuatu yang belum terjadi. Ada banyak jalan untuk mewujudkan impian. Terkadang jalan itu sama sekali tidak pernah kita bayangkan. Bermimpilah, berusahalah, dan nikmatilah hasil usahamu itu. Doa saya bersama kalian yang mau bermimpi dan berusaha untuk mewujudkannya. Selamat malam… semoga mimpi indah.